Judul : Dilempari Kotoran Setiap Hari, Begini Balasan Rasulullah Pada yang Melemparinya
link : Dilempari Kotoran Setiap Hari, Begini Balasan Rasulullah Pada yang Melemparinya
Dilempari Kotoran Setiap Hari, Begini Balasan Rasulullah Pada yang Melemparinya
Tidak bisa dipatahkan, jika baginda Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik teladan di muka bumi. Apa pun yang tertuang dalam ucapan dan tindakannya ialah sebenar-benar perkataan dan perbuatan.
Pada dirinya tertancap Al-Qur’an dan pada kesehariannya mengajarkan tuntunan berkehidupan. Ialah tuntunan bagi setiap hamba yang merindu surga. Ialah pedoman bagi siapa pun yang takut pada derita api neraka.
Ada beribu kisah, bahkan lebih dari itu, yang bisa diambil untuk menggambarkan betapa manusia pilihan itu teramat mulia akhlaknya, tertamat indah tutur kata dan perangainya.
Terlampau jauh dari kita yang tiada apa-apanya. Beliau penguasa peradaban, pemimpin umat yang besar, gagah dan tangguh di medan perang. Dilindungi dan dipelihara langsung oleh Sang Pemilik Kehidupan, dijaga oleh para malaikat, diagungkan oleh penduduk bumi dan langit.
–>
Tepat saat Rasulullah lewat, kembali dijatuhkannya ke atas kepala beliau, bahkan sesekali waktu ditambah dengan ludah yang sengaja ia semburkan untuk melengkapi hinaanya pada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sungguh betapa kesabaran Nabi tak tertandingi. Tetap beliau hanya membalasnya dengan senyuman yang teramat indah. Setelah beberapa waktu demikian, suatu hati si nenek tidak terlihat nampak di tempat biasanya ia bersiap untuk melempari kotoran.
Rasulullah heran dan kemudian menanyakannya kepada tetannga sebelah rumah si nenek. Karena selalu menyaksikan bagaimana nenek tua mendzalimi sang Amirul Mukminin, tetangga itu pun bertanya kembali pada Rasulullah,
“Untuk apa engkau menanyakan kabar orang yang setiap hari menghinamu wahai Rasulullah.”
Lagi-lagi, agungnya akhlak beliau dengan hanya membalas pertanyaan itu lewat senyuman pertanda kesabaran dan ketulusan.
“Si nenek tua itu hidup sebatang kara di rumahnya, dan sekarang ia sedang sakit”, jelas laki-laki itu.
Tidak tunggu lama, Rasulullah pun terus bergegas menuju rumah yang biasa menjadi tempat ia dihinakan itu, mengetuk pintu dan karena tidak ada yang menjawab, masuklah Rasulullah menyaksikan nenek tua yang terbaring lemas.
Karena perangainya yang buruk terhadap orang lain, hingga Rasulullah menjenguk belum ada orang lain yang datang dan melihat kondisinya. Baginda Nabi ialah orang pertama yang menjenguknya.
Beliau pun membantu menyiapkan makanan, menimbakan air, dan membersihkan rumah. Penasaran siapa yang bersedia membantunya, si nenek pun bangkit dan berusaha mencari tahu.
Terkagetlah ia, yang dengan tulus menjenguk dan membantunya pertama kali ialah justeru orang yang selama ini paling dihinakannya.
Rasulullah yang kemarin-kemarin sangat dibencinya. Bagaimana tidak tersentak hati si nenek melihat tidak ada sedikitpun rasa dendam, rasa amarah di hati Rasulullah. Justeru dengan ikhlasnya beliau membantu si nenek.
Karena itulah, si nenek kemudian memohonkan maaf dan ampun kepada Rasulullah, tersebab perilaku tidak baiknya di hari-hari kemarin, dan ia berjanji akan mulai menerima Islam sebagai ajaran yang akan dianutnya setelah ini.
Indahnya Islam semestinya tercermin lewat perilaku dan akhlak penganutnya. Tidak perlu jauh mendalam menjelaskan bagaimana Islam mengatur kehidupan, cukup pribadi-pribadi kita yang menyampaikannya lewat budi luhur dan kesantunan pembawaan.
Betapa akhlak Rasulullah membuktikan, tidak terhitung berhasilnya meluluhkan hati orang-orang yang sangat membencinya, hanya dengan membalas perbuatan buruk dengan balasan kebaikan.
Sumber: hijaz.id